Skip to main content

My first write to heal session

I was writing before. Buat beberapa orang mungkin tahu sebelum blog ini, gue punya blog lain. I was blogging for more than 5 years. And for personal reason, I decided to stop writing. Setelah setahun, gak tahan juga. Udah lama banget pengen nulis lagi tapi gak tau mau nulis apa. Haha. I've been talking with my friend, Ivan, about my desire to write. Awalnya gue ngajakin Ivan buat bikin satu projek senang-senang. Fyi, Ivan itu salah satu pemain teater di Bandung, Jawa Barat. Dari obrolan ngalor ngidul itulah akhirnya Ivan juga nyaranin gue buat nulis. He said that I have to start to write if I wanna writing again. Kuncinya adalah memulai. Menulis apapun. Masih belum tergugah sampe akhirnya Ibil nyadarin gue tentang kepayahan gue dalam mengonsepkan hidup. Duh.
And Ivan was right, yang gue butuhin adalah memulai. Mulai menulis. And thanks to Farida yang bikin write to heal session. Karena gue merasa butuh konsep buat nulis. Butuh hal yang "memaksa" gue buat nulis. Dan pilihan gue adalah ikut sesi write to heal bareng Farida dan kawan-kawan. Farida yang gue maksud adalah Farida Susanty, penulis buku "Dan Hujan pun Berhenti" dan "Karena Kita Tidak Kenal". Further info about her, you may Googling her name. Hehe.
Anyway, my first session adalah my first writing day. Yey! Jadi berkesan banget. Awalnya bingung mau nulis apa. Gue udah gak terbiasa untuk berekspresi lewat tulisan. Kagok banget. Ditambah lagi gak terbiasa nulis tangan. Haha. Hal pertama yang gue tulis akhirnya adalah curhatan gue tentang cowok yang udah lama banget deket sama gue cuma mentok aja di status. Haha. Abg banget ya gue? Harap maklum yaa.. Hahaha.
Ternyata eh ternyata dari hasil sesi pertama itu malah bikin gue tersadar sama perasaan gue sendiri. Sedalem apa sih perasaan gue ke dia. Dan perlu dua sesi lanjutan untuk akhirnya gue mutusin untuk berhenti. Berhenti berharap. Berhenti menunggu. Berhenti mencari dia. Gue galau? Pada sesi pertama, ya. Di sesi ketiga, gue lebih ngerasa lega dan siap move on. Di sesi pertama, gue mulai sadar bahwa perasaan seperti apa yang selama ini gue simpan. Hal apa aja yang selama ini ngeganggu gue. Everything about him.
Pada intinya, write to heal buat gue adalah cara gue mengoreksi perasaan gue. Pada kasus ini, ya perasaan gue ke cowok itu. Dan akhirnya gue dihadapkan pada pilihan tetap bertahan atau melepaskan. Gue milih melepaskan. Kadang kita perlu tahu apa yang membuat kita lebih bahagia atau justru sebaliknya. Well, mungkin gak sesimple itu juga. Tapi bisa kan? :)
Gue nulis ini bukan bermaksud membuat pihak manapun merasa gak enak hati atau gimana. Gue cuma mau share aja gimana proses sesi write to heal buat gue. Gimana proses menulis "yang gak biasa" ini ngebantu gue berproses. Dan sejauh ini, gue selalu ngerasa lebih baik setelah menulis. Lebih tepatnya setelah sesi write to heal. Mungkin setiap orang prosesnya beda atau yang dirasanya beda. Mungkin gak semua orang prosesnya sama kayak gue.
Mau mencoba write to heal? Actually, Farida bikin pertemuannya setiap minggu. Kita bisa share tentang kegiatan menulis kita atau apapun. Mungkin ada yang mau gabung? Bisa kontak gue di liriskinasih(at)yahoo(dot)com.
Have a nice day,
Liris

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....