Skip to main content

#runawayproject ? #writetoheal ?

 



Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting-an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you..

#writetoheal.
Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal, ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind. Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi. Dan menulis bisa membantu kita untuk fokus pada pengalaman-pengalaman emosi tersebut. Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di tulisan gue sebelumnya tentang write to heal ini.

Buat gue sendiri, minimal gue melakukan write to heal satu bulan sekali bersama temen-temen gue. Di lain waktu, gue biasa lakuinnya sendiri di rumah. Kenapa harus bersama-sama? Karena gue bisa sharing apa pun yang gue tulis. Well, gue adalah tipikal orang yang mau sharing apa yang gue tulis. Apakah temen-temen gue juga share apa yang mereka tulis? Nggak juga. Di sesi ini, gue nggak perlu maksa orang lain buat share tulisan mereka.

Pertemuan minimal sebulan sekali ini, ternyata selain untuk melakukan sesi menulis, bisa memperat tali silahturahmi juga lho. Gue dan temen-temen gue bisa share tentang pengalaman menulis, kegiatan sehari-hari, sometime about job vacancy, tentang apapun. Justru cerita-cerita yang muncul di sesi ini, nggak jarang jadi bahan tulisan gue juga. Inspirasi bisa datang kapan pun dimana pun.

Dari sesi menulis inilah, gue terinspirasi untuk membuat #runawayproject. Terinspirasi dari beberapa tulisan gue selama sesi write to heal dan beberapa percakapan selama sesi menulisnya.

#runawayproject
"I named it #runawayproject because I've been running away from everything that makes me like this. Crazy for loving, caring and adoring you. For sure. And I would never hide everything again. I will face you and my feelings towards you. Let people know. Let me share these feelings for everyone. I'm crazy of writing. Writing about myself, yourself, ourselves. I don't expect it will become good. But at least, I'm trying."

Itu adalah caption yang gue buat di salah satu foto Instagram beberapa bulan yang lalu. Awalnya #runawayproject adalah project curhatan gue lewat tulisan. Inspirasi awalnya datang dari pengalaman hidup gue sendiri. Tapi seiring berjalannya waktu, #runawayproject berubah menjadi project menulis gue yang inspirasinya datang dari mana pun. Bukan lagi murni curhatan gue. Bukan lagi murni pengalaman hidup gue. Tapi datang dari celoteh-celoteh tanpa jeda saat ngopi-ngopi di Jogja, perjalanan pulang dari Bali, ngelamun di Commuter Line, baca kicauan Bene di twitter. Inspirasinya datang dimana pun. 

Project menulis ini memang bercerita tentang runaway, kabur. Tanpa kita sadari, mungkin masing-masing kita tengah kabur dari suatu hal, suatu kondisi. Mencari zona nyaman untuk bertahan hidup.

Menurut ilmu Psikologi, kabur nya kita bisa jadi karena defense mechanism, mekanisme pertahanan diri. Sebagian dari cara individu untuk mereduksi perasaan tertekan, kecemasan, stress ataupun konflik adalah dengan melakukan mekanisme pertahanan diri baik yang dia lakukan secara sadar ataupun tidak. Ada  banyak cara pertahanan diri. 

 Tanpa gue sadari, project menulis ini membantu gue untuk semakin mengenal diri. Lucu ya? Udah seumuran gue masih aja mencari tahu seperti apa diri ini.Tapi selama proses menulis ini, gue memang jadi menyadari banyak hal. Apa yang sebenernya gue inginkan, apa yang sebenernya selama ini gue takuti.. Yah..gue jadi mengenal diri gue sendiri.

Rencananya, #runawayproject akan berisi 3-5 buah cerita yang temanya tentang runaway. Saat ini baru 1 cerita yang sudah selesai. Walaupun awalnya hanya project curhatan pribadi, akhirnya project ini di buat lebih serius. Gue meminta 2 orang temen untuk jadi editor. Secara konten dan secara grammar.

Oh iya, yang belum gue ceritain adalah project ini sepenuhnya menggunakan bahasa inggris. Sok nginggris? Nggak juga. Percaya deh, prosesnya 2x lebih sulit dari pada menggunakan bahasa Indonesia. Apalagi, sehari-hari gue juga belum sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris. Trus kenapa pakai bahasa Inggris? Ini adalah salah satu bentuk tantangan ke diri gue sendiri. Bisa nggak sih gue keluar dari zona nyaman gue selama ini? Bisa nggak sih, gue bercerita menggunakan bahasa yang selama ini belum pernah gue coba? Dan hasilnya sejauh ini, 1 cerita udah selesai dan dalam tahap "koreksi" oleh temen-temen gue.

==

Jadi, itulah cerita gue tentang #writetoheal dan #runawayproject. Intinya memang ini adalah 2 kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Intinya memang pencarian jati diri. Berusaha mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul. 

Gue akan secara rutin mengadakan #writetoheal. Kalau kalian ada yang berminat untuk ikutan, boleh ya kirim email ke liriskinasih(at)yahoo(dot)com. Nanti gue akan share tentang tempat dan waktunya. 

See you and happy sunday fellas,


Liris Kinasih 

pict taken from here

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...