Skip to main content

EF

Harus gue akui, Ibil is my true friend. Mungkin dia gak nyadar, but as a friend, he gives me many advises. Walaupun seringnya nasihat dia itu sarkastis banget. Someday, we're talking and joking as usual. I forgot what were we talking about but suddenly he said, "you're a bad decision maker. Lo tuh nggak pinter memilih." Pada saat itu, gue rada tersinggung tuh sama omongan dia. Hellowww, maksud dia itu apa ya. Tau banget soal gue? Sampai.. hari ini gue sadar, Ibil was right. I am really really a bad decision maker.

Banyak orang tanya (dan bahkan diri gue sendiri. Haha), kenapa gue nggak punya pacar. Ada beberapa yang menyimpulkan kalau gue termasuk tipe orang yang pemilih. Tapi ada juga yang ngerasa minder (atau ilfeel ya? :p) setelah kenal gue lebih jauh. Gue sendiri gak pernah paham, kenapa gue nggak punya pacar. Gue pemilih? Oh, c'mon. Ibil aja bisa bilang gue gak pintar memilih. Cowok yang pernah deket sama gue ya bukan tipe yang seragam atau sama. Dari banker sampe seniman. Pada dasarnya gue emang gak mau pilih-pilih temen. Tapi, kalau temen hidup ya mesti selektif dong. Ya kan? Hehe. Kalau masalah minder (atau ilfeel), nah ini yang gak pernah gue pahami. Ini terlalu samar-samar. Yah..anggap aja mereka ilfeel sama gue because I am a random person ever.

Dan kerandoman inilah yang membawa gue ke hari ini yang akhirnya menyadari bahwa gue ini gak pandai memilih. I met this person last year, EF. For the first time, we're never talk each other. Sampai akhirnya kami mulai chat hal-hal yang random. At the end of year, kami ketemu lagi dan menertawakan kerandoman kita. Gimana bisa orang yang pada awalnya sama sekali nggak ngobrol satu sama lain akhirnya bisa deket karna ngebahas hal-hal yang random. Dari mulai ngobrolin film AADC ( yup! AADC!!), kegiatan-kegiatan kami sampai imajinasi kita berdua kadang kami sendiri gak paham lagi itu maksudnya apa. Haha.

Randomness. Kami memulai semuanya karna kerandoman. Maybe I just liked him because of that randomness. And I thought it was my fault. To like him. Pada awalnya gue pikir dia ngerasain hal yang sama. Our togetherness. Our randomness. I thought we're just falling in love each other. But that isn't true. Hari ini gue menyadari, bahwa apa kerandoman yang kami mulai akan berakhir juga dengan kerandoman.

Nggak ada hal yang lebih menyedihkan, menyakitkan dan mengesalkan dari kepergian tanpa pesan. Dia yang pergi atau sebenarnya gue yang lelah untuk mengejar? Yang gue rasain adalah He doesn't care about me anymore. Dia gak peduli lagi kenapa gue akhirnya berhenti mengejar, berhenti berlari. Karena dia terus berlari tanpa lagi menengok ke belakang. Sama seperti dia hadir, random things. Ketika pergi pun, it just a random things. Kadang gue cuma ingin diyakinkan, kalau semuanya hanya karna kerandoman, just tell me. Hanya ingin diyakinkan sekali saja. Mana yang sebenarnya kami jalani.

Terus, apa hubungannya sama omongan Ibil? Well, ini bukan kali pertama gue "ditinggalkan" tanpa pesan apa pun. Pergi karna marah, sedih atau apa? I am out of the blue. Hari ini setelah cukup lama merenung..akhirnya gue tau apa maksud omongan Ibil. Bahwa gue ini gak pernah pintar memilih. Memilih kapan gue berlari mengejar. Hanya mengejar hal yang pantas untuk dikejar. Karna gue selalu terus berlari tanpa tau bahwa gue udah sia-sia berlari. So, should I say thanks to Ibil? Hahaha.

Untuk yang udah pergi tanpa pesan: EF, BHAY!

Have a great day,

Liris.

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....