Hal apa yang pertama kali muncul di benak lo, ketika muncul kata "anak-anak" di depan lo? Kalau gue, bebas. Anak-anak selalu bisa bebas mengekspresikan diri mereka. Mau itu sambil ketawa-ketawa, nangis tersedu-sedu, tantrum (gak bisa diem, gak terkontrol) atau apa pun. But they always looks free. Mungkin ada beberapa dari kita yang berpikir anak-anak itu lucu, menggemaskan, unpredictable, atau pintar. Tapi mungkin banyak juga yang beranggapan anak-anak itu menyebalkan, tukang rewel, nangis terus, sering merajuk dan lain-lain. It's okay. Anak-anak memang dilihat seperti itu.
Gue pernah magang di salah satu Biro Psikologi di Bandung. Gue dikasih kesempatan satu tahun untuk magang di bagian Klinik Anak. Jadi, hampir tiap hari gue berhadapan dengan anak-anak. Dan kebanyakan anak-anak yang gue hadapi adalah anak-anak spesial. Special treatment, special method, special effort or even special adjustment. Tapi disitu serunya. Gue pernah menghadapi anak yang nggak mau duduk di kursi, so dia mengerjakan tugas sambil duduk di atas meja. Gue juga pernah ngetes anak di bawah kolong meja, soalnya dia takut sama petir (well, pas waktu pengetesan emang lagi banyak petir dan hujan deras). Gue juga pernah ngetes anak umur 2 tahun (yap! 2 tahun!!) di atas perosotan. Iya, gue sampe naik perosotannya. Hahaha. Seru dan seringnya justru gue yang banyak belajar dari mereka :)
So, buat gue...apa pun yang terjadi seharusnya masa anak-anak menjadi masa yang menyenangkan buat kita atau mereka semua. Tapi sedihnya, ternyata banyak anak-anak di Indonesia yang nggak bisa merasakan masa anak-anaknya dengan menyenangkan. Bukan cuma anak-anak spesial yang saya bicarakan di atas, tapi justru lebih menyedihkan dari itu. Kekerasan. Yap, satu kata yang memiliki pengaruh emosional bagi kita ketika membacanya. Masih rame banget sampe hari ini terkait kasus kekerasan yang berakibat kematian, seorang anak di Bali, Angeline. I was in Thailand when I got information of losing child in Bali. Beritanya ada dimana-mana. Khususnya jejaring sosial. Informasinya menyebutkan Angeline sudah hilang hampir seminggu. Dijelaskan juga ciri-ciri anak ini. Dan nggak sampai seminggu kemudian, berita yang beredar justru lebih menyakitkan. Angeline ditemukan tewas di rumahnya. Ia ditemukan tewas terkubur di halaman rumahnya. Related article in here. Is it a joke? Yang ngelaporin anak hilang kan ibunya. Kok, malah ditemukan tewas di halaman rumahnya? Ibunya gak sadar selama ini ada bau-bau aneh di halaman rumahnya? Well, banyak spekulasi akhirnya. Walaupun sampai hari ini motif pembunuhan masih belum pasti, tapi memang diketahui Angeline tewas ditangan orang-orang terdekatnya. Still can't believe.
Kasus kekerasan yang berakibat kematian ini bukan yang pertama kalinya di Indonesia. Kekerasan yang terjadi pada anak-anak ini bukan hanya kekerasan fisik tapi juga kekerasan seksual. Bukan tanpa solusi dari pemerintah. Pada tahun 2014 kemarin, akhirnya Undang-Undang Perlindungan Anak mulai di revisi. Banyak kampanye-kampanye di media sosial terkait informasi kekerasan ini. Ini contoh bentuk kampanye yang dilakukan temen gue Danish dan komunitas Kisanak.
Sejak tahun 2014, banyak sekali informasi yang menarik untuk mengajarkan anak agar lebih waspada terhadap orang-orang yang mungkin melakukan kekerasan pada mereka. Ketika ramai dengan kasus kekerasan seksual yang terjadi pada siswa Jakarta International School, banyak juga beredar informasi bagaimana mengajarkan anak-anak untuk aware terhadap tubuhnya khususnya bagian vital dari tubuh mereka, atau yang lebih dikenal dengan underware rules:
Lalu, jika informasi sudah banyak diberikan, UU yang juga sudah direvisi, campaign anti kekerasan pada anak yang juga sering digalakkan, tetapi kejadian kekerasan pada anak (bahkan menyebabkan kematian) masih saja terjadi? Lalu..apa lagi yang harus kita lakukan?
Setelah banyak informasi yang kita berikan pada anak-anak, akhirnya somebody realized that the adults have to educated too. Kita sebagai orang dewasa mulai sekarang harus lebih aware lagi jika ada perubahan perilaku pada anak-anak. Dan jika menemukan terjadinya kekerasan, laporkan. Karena...half of mine believe informasi di atas di rasa kurang efektif untuk mencegah kekerasan pada anak. Bagaimana pun mereka tetap anak-anak yang selalu memandang orang dewasa itu superior. Belajar dari kasus Angeline. Angeline saat ini berusia 8 tahun. She could tell anybody that She got violences form her family. Tapi Angeline selama ini hanya bisa diam. So, disini lah peran orang dewasa yang waras untuk bertindak.
Selain itu, proses hukumnya juga harus benar-benar berjalan dengan baik. Undang-Undang yang sudah di revisi itu, digunakan dengan baiklah. Jangan cuma jadi pajangan aja di rak buku. Berikan hukuman yang pantas untuk pelakunya. Selama ini, banyak kasus kekerasan pada anak yang berlalu begitu saja tanpa ada informasi yang jelas bagaimana hasil akhir proses hukumnya (somebody, correct me if i am wrong).
Peran kita semua disini memang penting. Jika merasa penting untuk mendesak pemerintah, kita bisa mengajukan petisi seperti yang dilakukan oleh Maimon Herawati seperti disini. Lo bisa ikutan petisi ini untuk mendesak para pemegang kuasa itu bisa menindak tegas para pelaku kekerasan di Indonesia. Atau seenggaknya kalian bisa mengedukasi orang dewasa lainnya atau anak-anak terkait cara pencegahan kekerasan seperti yang udah gue sebut di atas. Let's make a better place for our next generation.
Peace and Love,
Liris Kinasih
Keterangan gambar
*) diunduh disini
**) kalo yang ini dikirim via Whatsapp sama temen gue, Danish
***) yang ini diunduh disini
****) ini di screen capture dari akun instagram Ayo Dongeng Indonesia @ayodongeng_ind
Gue pernah magang di salah satu Biro Psikologi di Bandung. Gue dikasih kesempatan satu tahun untuk magang di bagian Klinik Anak. Jadi, hampir tiap hari gue berhadapan dengan anak-anak. Dan kebanyakan anak-anak yang gue hadapi adalah anak-anak spesial. Special treatment, special method, special effort or even special adjustment. Tapi disitu serunya. Gue pernah menghadapi anak yang nggak mau duduk di kursi, so dia mengerjakan tugas sambil duduk di atas meja. Gue juga pernah ngetes anak di bawah kolong meja, soalnya dia takut sama petir (well, pas waktu pengetesan emang lagi banyak petir dan hujan deras). Gue juga pernah ngetes anak umur 2 tahun (yap! 2 tahun!!) di atas perosotan. Iya, gue sampe naik perosotannya. Hahaha. Seru dan seringnya justru gue yang banyak belajar dari mereka :)
![]() |
| - Berita hilangnya Angeline yang tersebar di media sosial *)- |
![]() |
| -Ajarkan anak tentang 3T; agar mereka paham mereka tidak berhak mendapat kekerasan **)- |
![]() |
| - Informasi Underwear Rule yang gencar diberikan ketika kasus kekerasan seksual muncul di masyarakat ***)- |
Setelah banyak informasi yang kita berikan pada anak-anak, akhirnya somebody realized that the adults have to educated too. Kita sebagai orang dewasa mulai sekarang harus lebih aware lagi jika ada perubahan perilaku pada anak-anak. Dan jika menemukan terjadinya kekerasan, laporkan. Karena...half of mine believe informasi di atas di rasa kurang efektif untuk mencegah kekerasan pada anak. Bagaimana pun mereka tetap anak-anak yang selalu memandang orang dewasa itu superior. Belajar dari kasus Angeline. Angeline saat ini berusia 8 tahun. She could tell anybody that She got violences form her family. Tapi Angeline selama ini hanya bisa diam. So, disini lah peran orang dewasa yang waras untuk bertindak.
![]() |
| Ini cara yang bisa dilakukan oleh orang dewasa untuk mencegah tindakan kekerasan ****) |
Selain itu, proses hukumnya juga harus benar-benar berjalan dengan baik. Undang-Undang yang sudah di revisi itu, digunakan dengan baiklah. Jangan cuma jadi pajangan aja di rak buku. Berikan hukuman yang pantas untuk pelakunya. Selama ini, banyak kasus kekerasan pada anak yang berlalu begitu saja tanpa ada informasi yang jelas bagaimana hasil akhir proses hukumnya (somebody, correct me if i am wrong).
Peran kita semua disini memang penting. Jika merasa penting untuk mendesak pemerintah, kita bisa mengajukan petisi seperti yang dilakukan oleh Maimon Herawati seperti disini. Lo bisa ikutan petisi ini untuk mendesak para pemegang kuasa itu bisa menindak tegas para pelaku kekerasan di Indonesia. Atau seenggaknya kalian bisa mengedukasi orang dewasa lainnya atau anak-anak terkait cara pencegahan kekerasan seperti yang udah gue sebut di atas. Let's make a better place for our next generation.
Peace and Love,
Liris Kinasih
Keterangan gambar
*) diunduh disini
**) kalo yang ini dikirim via Whatsapp sama temen gue, Danish
***) yang ini diunduh disini
****) ini di screen capture dari akun instagram Ayo Dongeng Indonesia @ayodongeng_ind




Comments
Post a Comment