Skip to main content

Why I (or maybe you) should write?

Sebenernya gue suka nulis udah lama banget. Maybe since I was 9 or 10 yo. Pertama kali gue mulai nulis adalah nulis diary. Hahaha. Ketahuan deh ya gue angkatan berapa. My first diary named Rank. Nggak tahu alasannya apa. But it stood by myself for long time until I found Blog.

Keluarga gue termasuk keluarga yang senang menulis. Papa pernah jadi penulis freelance di majalah Gadis di awal tahun 80an. Mama, walaupun belum pernah menulis sebuah cerita, tapi tulisan resep makanan koleksinya jangan ditanya. She needs the whole drawers for her receipts. My big sister is also a writer. Awal tahun ini dia baru aja launch buku parenting. See? Menulis kayaknya udah jadi habit di keluarga gue.

Ada banyak alasan kenapa gue memilih menulis dibandingkan kegiatan motorik halus lainnya. Mungkin nanti setelah baca, lo juga tertarik untuk mulai menulis.

Talk Less, Write More
Percaya atau nggak, dulu gue adalah orang yang paling males ngomong. Berharap banget telepati itu beneran ada di diri gue. Tapi karena tuntutan kegiatan, akhirnya gue mulai seneng ngomong dan malah jadi kebablasan bawelnya. Jadi menulis adalah sarana satu-satunya untuk mengekspresikan diri gue. Ya kesel, seneng, marah, sedih, kecewa, semuanya gue tulis. Mungkin lo akan jarang menemukan gue marah sampe teriak-teriak pengen diperhatiin gitu. Karena gue akan lebih milih untuk nulis daripada ngomong. Kalo lo mau belajar jadi orang yang sabar, mungkin lo harus mulai membiasakan diri buat menulis.


Keep Focus
Gue ini tipe orang yang lumayan impulsif dan gampang ke distract. Cara yang ampuh supaya gue nggak terlalu impulsif adalah dengan menulis.Mungkin ini kerasanya waktu jaman sekolah dulu ya. Gue termasuk yang rajin nyatet. Karena dulu kalo nggak nyatet gue bawaannya pengen ngelamun aja, berimajinasi. Sampai kerja pun sebenernya gue masih seneng nyatet. Biar inget juga apa aja sih to do list nya. Dengan menulis, gue juga jadi tau apa aja sih hal-hal yang mau gue lakuin. Lebih jelas aja gitu arah hidup gue mau kemana. Jadi gue tau hal apa aja yang harus gue capai. Dan bisa jadi feedback juga sudah sejauh mana perjalanan gue mencapai apa yang gue mau.

Bye bye stress
Karena menulis adalah cara gue untuk berekspresi, akhirnya menulis jadi salah satu cara untuk menghilangkan stress. Seperti yang sering gue bahas di blog ini tentang write to heal, menulis membantu gue untuk me-release stress gue. Gue cuma butuh kertas dan alat tulis aja. Itu udah cukup bikin gue seneng. Dengan nulis, gue bisa mengungkapkan apa pun perasaan gue tanpa takut orang lain tau. Kecuali kalo tulisannya gue publikasi.  

Find (more) about myself
Mungkin terdengar klise kalo gue bilang, gue menemukan diri gue dengan menulis. But it happens.Mungkin kalian inget kalau gue punya #runawayproject, proyek menulis yang sedang gue jalanin. Selama prosesnya gue jadi semakin tau gue itu seperti apa. Apa yang gue takutin, gimana gue menghadapi ketakutan itu. Apa yang membuat bahagia, gimana gue bersyukur akan hal itu. Dan hal-hal lainnya.

Dari semua alasan-alasan itu, semuanya mengerucut pada satu hal: happiness, kebahagiaan. Pada akhirnya gue menyadari bahwa apa pun yang lakukan, apa yang gue cari, akan mengarah pada satu tujuan. Sesuatu yang mungkin bagi kalian terasa berlebihan atau apa ya...kedengarannya gue selama ini nggak bahagia. But, if you do your passion well, you must be really know what it means.

Kita punya cara masing-masing untuk bahagia. Buat gue, itu adalah menulis. Yang menurut gue itu sangat sederhana and heals my soul well. Tertarik untuk mulai menulis? :)

Love,
Liris

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....