"100 days. 100 days you were gone. How's heaven, dek?"
Seingat gue, belum pernah gue ngerasa kehilangan sedalam ini. Banyak kenangan. Banyak harapan. Banyak penyesalan.
Untuk kesekian kalinya gue menulis bagaimana rasa kehilangan gue. Untuk kesekian kalinya gue akan bilang gue kangen banget.
"I miss you, dek. Did you ever? After you were gone, I realized everytime is precious time."
Ini tentang Aster. Sepupu yang beda umurnya 6 tahun lebih muda dari gue. Yang udah gue anggap seperti adik sendiri. I've spent my 6 years with her during my Univ's life in Bandung. Dia yang nemenin gue tiap malem, we did pillow talk almost everyday. Sometimes I hugged her before I slept.
Dia suka kucing. That's why she loved Hello Kitty so much. Dia selalu nonton tivi persis di depan tivi, karena males pakai kacamata. Dia suka Choi Minho, salah satu member boyband Korea Shinee. Dia sering jajanin gue batagor atau seblak tiap pulang sekolah. Dia pertama kali ngajarin gue bikin kimbab, bikin spaghetti sampe bikin seblak. Our favorite iftar menu was bala-bala (bakwan goreng). Seingat gue, dia jarang marah. Kalo bete-betean sama gue sih sering. Tapi dia lebih sering ketawa dan bikin gue ketawa. We did so many silly things together. Kadang gue ngerasa, dia yang jadi kakaknya dan gue adiknya. Dia yang kalem, malah kadang jadi lebih dewasa. Dia adalah pribadi yang menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Hari itu, kakek kami meninggal dunia. Karena gue baru bisa ke Bandung siang hari, gue nggak sempet datang ke pemakaman. Aster sempat menanyakan kabar gue, gimana caranya gue ke Bandung dan mengabari situasi di rumah duka. Malem itu, gue nunggu dia pulang dari pemakaman. Gue dapet kabar, dia emang lagi nggak enak badan hari itu. Sesampainya di rumah, I hugged her tightly and she replied with smile. Like always. Aster yang suka senyum. Setelah itu Aster masuk ke kamar untuk istirahat. Gue nggak sempet ketemu dia lagi setelahnya.
Dini hari, gue dikabari Aster masuk UGD. Subuh, dikabari lagi sudah tidak sadarkan diri. Pagi itu gue ragu apakah gue balik ke Jakarta atau nengok Aster sebentar di RS. Tapi karena udah beli tiket kereta, gue akhirnya memutuskan balik ke Jakarta. Ini adalah penyesalan gue yang pertama.
Sampai siang, gue masih belum terima kabar baik. Begitu juga sore. Gue mulai gamang. I were not ready for another sad news. Gue cuma bicara dalem hati, "please, dek. Bangun, please. Kalo udah sembuh, kita jalan-jalan yuk dek." Gue merasa harapan itu masih ada.
Jam 7 malem, dalam perjalanan pulang dari kantor, gue dikabari...Aster meninggal dunia. Setelah hampir semaleman berjuang, Aster meninggal dunia dengan vonis dokter adalah karena diabetes. Gue merasa nggak percaya. Gimana bisa, orang yang baru ketemu kemarennya, yang gue peluk, meninggal? Tepat sehari setelah kakek meninggal? Lelucon macam apa ini? Ini pasti salah. Ini pasti cuma berita yang belum pasti. Gue mencoba menyangkal semuanya.
Dan gue baru merasa berita itu bener, setelah sampai di rumah. Ketika gue lihat keluarga gue siap-siap balik lagi ke Bandung. Gue nggak bisa balik ke Bandung karena gue udah punya agenda meeting dan presentasi yang nggak bisa di undur lagi. Ini adalah penyesalan kedua.
Malem itu gue nggak bisa tidur. Gue cuma nangis sesegukan. Semaleman gue dengerin lagu-lagunya Shinee. Gue masih berharap ini semua cuma lelucon. Gue baca lagi chat-chat, komen-komen di Path atau Twitter. Gue masih menyangkal itu semua.
Perlu waktu beberapa hari setelahnya untuk gue balik ke Bandung dan ziarah ke makam Aster. Dan masih nggak (mau) percaya. Semuanya masih terasa lelucon. Setelahnya, beberapa kali gue tidur kamarnya, kamar yang dulu gue tempatin juga. Semuanya masih ada. Poster Minho, foto-foto dan koleksi Hello Kitty. Cuma satu yang nggak ada, Aster. Gue pengen balik lagi ke hari terakhir gue ketemu Aster. Banyak cerita yang mau gue bagi. Gue mau peluk dia sekali lagi.
Semenjak Aster pergi, kadang-kadang gue berpikir apa yang udah gue kasih ke Aster. Dengan segitu banyaknya yang udah Aster lakukan ke gue, banyak hal yang udah dia kasih ke gue. Gue berpikir apakah waktu itu gue udah jadi kakak yang baik buat dia. Apakah gue selalu mengganggu? Apakah Aster juga kangen gue? Maka gue pun berharap gue bisa balik ke waktu 6 tahun itu. Gue mau lakukan banyak hal buat Aster. Gue mau jadi kakak yang baik.
"Dek, tau nggak sebulan setelah kamu pergi, Shinee ngeluarin album baru? Dan sebulan setelahnya, mereka dateng ke Jakarta loh. Selain itu, ada Hello Kitty run juga. Itu semua kesukaanmu loh."
Katanya, doa adalah cara terbaik melepas rindu. Dan cuma itu yang bisa gue lakukan setiap kangen Aster. Sekaligus minta maaf karena nggak bisa jadi yang terbaik. Sekaligus terima kasih. Terima kasih untuk 6 tahun yang menyenangkan.
"Setiap aku lihat ibu, aku sadar apa yang aku rasakan nggak ada apa-apanya dibandingkan ibu. Kalau ibu saja kuat, aku pun harus bisa ya, dek."
I love you more than you love Minho, Dek.
Liris Kinasih

Turut berduka, Kak Liris. Semoga Allah menyambut hangat kepulangan Adek Aster dan Kakek. Semoga kalian nanti dikumpulkan kembali di tempat terindah yang abadi...
ReplyDelete