"When you lose something you can't replace
When you love someone, but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you"
[Fix You - Coldplay]
When I read about the story behind song above, I almost cry. Well, lebay ya. But it's true. Mungkin, penggemarnya Coldplay udah tahu banget apa cerita di balik lagu Fix You. Chris Martin, the vocalist, wrote that song when her (ex) wife, Gwyneth Paltrow's dad passed away. Jadi sebenernya lagu Fix You menceritakan their grief time. That's the reason why I cry.
Ini cerita tentang Coldplay, tapi kenapa judulnya Muse? Well, akhir-akhirnya gue sering banget denger lagu-lagu Coldplay. Dan karena mereka lagi konser di Aussie, so many people posted about them on Instagram. Argh. And I played my favorite song of them, Fix You. And I remember the story behind that song.
Chris Martin pasti nggak ujug-ujug nulis lirik lagu itu. Nggak seketika itu dapet ilham buat nulis lirik 'dalem' itu. Mungkin ia harus memiliki pengalaman menenangkan Gwyneth Paltrow dulu baru bisa nulis liriknya. Atau pengalaman-pengalaman lainnya yang akhirnya melahirkan lagu Fix You.
Everybody has their own muse. Dalam mitologi Yunani, Muse preside over the arts and sciences. Dan selanjutnya dianggap sebagai creative influences. If you google-translate the word of muse is meaning merenung. Well, kita butuh merenung untuk mendapatkan inpirasi.
Everybody has their own muse. Like what Chris Martin did. Pada saat ia menciptakan lagu Fix You, his muse was his life experiences with Gwyneth Paltrow. Atau kalau kalian tahu lagu-lagu Nirvana, their muse must be Kurt Cobain's not-so-good life experiences. Atau Dewi Lestari yang muse-nya adalah pertanyaan-pertanyaannya akan kehidupan. Itulah hal-hal yang membantu para artist menciptakan karyanya.
Buat gue, muse gue adalah pengalaman-pengalaman gak enak yang pernah gue alami selama ini. Ada yang bilang, kebahagian itu harus dibagi tapi kalau kesedihan jangan pernah dibagi, nggak baik katanya. Kata siapa? Menurut gue, justru kadang dengan kita tahu tentang kesedihan, kita bisa tahu gimana enaknya rasa bahagia itu. Dan terlebih lagi, gue sedang belajar untuk jujur sama diri sendiri.
Semakin lama gue hidup, semakin gue menyadari bahwa banyak dari kita yang nggak bisa jujur ke diri sendiri, khususnya tentang kesedihan. Why people always pretend they're okay when they're not? Karena pada kenyataannya, kita ini hidup dengan banyak peran: orangtua, anak, boss, karyawan, dll. Karena kita ingin orang lain menganggap kita kuat. Karena kita nggak mau di bilang cemen. Dan banyak alasan lainnya.
Gue pernah ada di dalam periode dimana gue berpura-pura kalau gue baik-baik aja. Gue nggak mau orang-orang di sekitar gue kecewa sama gue. Gue mau orang menganggap gue baik-baik aja. Tapi akhirnya gue capek. Kenapa gue nggak bisa menunjukkan kalau gue nggak oke? Kenapa gue nggak bisa bilang ke mereka, gue sedih, marah dan kecewa?
Sampai akhirnya gue memulai Write To Heal ini. Gue keluarin semua "cerita sedih" gue. Rasanya lega banget. Walaupun baru berupa tulisan, tapi gue seenggaknya udah jujur sama diri gue sendiri. Nggak ada yang perlu ditutupin lagi. Sedikit-sedikit gue mulai berani untuk cerita ke orang-orang terdekat. Sampai akhirnya gue dapet julukan tukang galau atau lebih parah, drama queen. Haha.
Dari pengalaman-pengalaman gak enak itulah akhirnya gue nulis cerita. Udah setahun cerita itu ada. Teronggok malu-malu minta di baca sama orang lain. Hehe. Dan butuh waktu setahun buat gue untuk menunjukkan "kejujuran" gue ke orang lain. Rasa gak enak apa yang pernah gue alami.
Awalnya gue risih dengan julukan "tukang galau". Tapi akhirnya gue sadar pencitraan yang gue lakukan ini adalah cara gue untuk jujur. Jujur kalau gue nggak oke. Jujur kalau banyak harapan yang terbuang sia-sia. Well, kalau gue nggak galau, gue nggak bisa nulis dong. Hehe. Dan akhirnya jadi "biasa" aja kalau ada yang bilang gue "tukang galau".
Gue akhirnya menyadari, menemukan muse itu nggak semudah yang gue bayangin. Gue kira dengan duduk ngelamun, berkontemplasi, akhirnya muncul inspirasinya. Ternyata harus di panggil "tukang galau" dulu baru tahu apa muse-nya. Haha.
So what's your own muse?
Love,
Liris Kinasih
Comments
Post a Comment