Skip to main content

Write to Heal: Sadar Rasa bukan Abai Rasa

Walaupun sudah beberapa kali gue share tebtang write to heal, sekarang gue akan bahas lagi tentang write to heal.

Apa itu Write to Heal?

Write to heal adalah salah metode menulis yang dilakukan selama 20 menit tanpa jeda. Tujuannya memang untuk healing atau pengobatan. Pengobatan apa? Pengobatan mental. Untuk orang gila maksudnya? Gak semua orang yang gak gila itu sehat secara mental lho. Hehe.

Jadi, seperti yang gue jelaskan, metode ini dilakukan hanya selama 20 menit. Selama 20 menit itu kita bebas menulis apa pun, dengan syarat apa yang kita tulis adalah hal yang berhubungan langsung dengan diri kita. Kita akan menulis tanpa jeda. Kita tidak diperbolehkan untuk berhenti sejenak untuk berpikir. Karena metode ini tidak menilai tata bahasa kita, penggunaan tanda baca, dsb.

Kita hanya menulis selama 20 menit tanpa berhenti. Kalau di tengah-tengah proses kita ngerasa stuck, biarkan otak dan tangan menuntun kita untuk menulis apa pun. Ada saatnya dalam satu kali sesi write to heal, gue menulis lebih dari 1 cerita. Emang gak nyambung sih, tapi that's ok.

Alasan menggunakan metode ini

Awal ikutan sesi ini karena tertarik aja sama kata-kata "healing" yang digunakan. Setelah ikut beberapa sesi, ternyata metode ini membantu gue untuk semakin memahami diri gue sendiri. Gue bisa memetakan hal-hal yang mengganggu atau menghambat dalam hidup gue. Gue jadi fokus sama masalah apa yang akan gue selesaikan.

Selama ini gue ngerasa masalah gue adalah dengan "seseorang" tapi dengan write to heal ini gue sadar bahwa inti masalahnya adalah cara pandang. Dengan metode ini banyak hal yang bisa gue sadari rasanya. Misalnya gue pernag ngerasa kalo gue sedih banget karena salah satu temen gue meninggal di usia yang masih muda banget. Setelah nulis, gue menyadari kalo gue gak cuma sedih tapi juga kecewa dan merasa bersalah sama diri sendiri.

Setelah itu gimana? Ya, dari situ gue fokus sama rasa kecewa dan rasa bersalah itu. Gue coba untuk menyelesaikan rasa itu supaya gak mengganggu hidup gue. Gue bahkan sampe harus ke pemakaman dia dan berdoa lama di sana. Gue minta maaf atas segala pikiran negatif gue tentang dia.
Atau misalnya saat gue merasa susah move on. Gue pikir itu karena gue terlalu sayang sama dia tapi setelah nuli gue sadar itu karena gue terlalu bergantung sama dia.
Itulah pentingnya, menurut gue, untuk sadar rasa bukan abai rasa. Kadang kita enggan sadar rasa karena takut dinilai terlalu lebay atau drama banget. Padahal justru dengan kita sadar rasa, kita tahu dengan jelas apa yang terjadi dalam diri kita.

Efek yang diberikan oleh Write To Heal

Seperti tagline blog ini, get healed get happy. Setelah mengikuti beberapa sesi write to heal, gue ngerasa lebih 'enteng' menjalani hidup. Hal-hal yang memberatkan hati dan hidup gue pelan-pelan hilang. Kalau pun masih ada, ya itu hanya akan diam saja tanpa perlu banyak bergejolak di hati.

Efek lainnya adalah gue mulai terbuka. Gue menyadari dalam proses healing, gue nggak bisa jalan sendiri. Gue sangat sangat berterima kasih sama temen-temen yang mau membuka hatinya membantu gue dalam proses ini.

Dengan menyadari apa yang kita butuhkan, kita jadi tahu kita mesti "minta" apa ke orang lain. Sering nggak sih kalian udah capek-capek curhat tapi hati masih berat juga? Jangan-jangan bukan itu yang kalian butuhkan.

Waktu yang tepat untuk writ to heal

Waktu yang tepat adalah ketika kalian siap. Nggak jarang dalam proses write to heal gue menemukan rasa baru yang nggak gue sangka yang bikin gue down atau mewek-mewek. Kalau gue nggak siap, ini baka nambah rasa berat di hati gue. Makanya prosesnya harus dimulai ketika kita emang siap.

Proses healingnya sendiri butuh waktu. Jadi memang kita harus konsisten untuk write to heal. Biar masalahnya cepet kelar juga kan. Hehe. Dari satu sesi ke sesi berikutnya sebaiknya adalah 4 hari atau lebih. Memang sebaiknya write to heal tidak dilakukan setiap hari. Berikan tubuh kita untuk merespon setiap rasa dan emosi yang keluar ketika write to heal. Berikan waktu ke diri kita untuk cooling down.

Kalau gue secara pribadi, lebih suka write to heal bersama teman. Kalau sendirian, malah jadi kebawa melow. Jadi butuh orang lain untuk menetralisir. Hehe.

Boleh gabung?
Boleh banget. Sesi yang pernah gue ikutin itu paling banyak adalah 5 orang. Karena sesi ini emang sifatnya personal banget kan, ada beberapa temen yang justru nggak nyaman kalau nulisnya rame-rame.

Kalau kalian berminat ikutan atau mau diskusi lebih lanjut, boleh komen disini ya. Gue seneng banget kalau bisa berbagi sudut pandang dengan kalian.

So, selamat mencoba ya untuk mulai write to heal :)

have a nice day,
Liris Kinasih

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....