Beberapa minggu lalu, nggak sengaja ngobrol tentang gender equality sama Monang dan dua hari lalu gue mengalami gender discrimination. Jadi gatel pengen bahas hal ini di sini. Awalnya, gue cuma terlibat perbincangan ngalor ngidul yang berujung janjian untuk nongkrong bareng. Dan tiba-tiba muncul pernyataan: “Liris, kamu itu perempuan, nggak apa-apa kalo pergi jauh?” Dan gue si over sensitif seketika terpaku dan bingung mau jawab apa. Rasanya pengen buru-buru nyolot, “emang kenapa kalau gue perempuan, hah? Gak boleh main jauh, hah?” tapi gue memilih untuk diem aja dulu.
Menurut gue, itu baru contoh simple bagaimana perempuan sering jadi korban diskriminasi. Dan sebenernya beberapa kali gue nemuin hal-hal itu di tempat kerja, yang seharusnya berisi orang-orang yang punya pemikiran terbuka. Misalnya aja ketika proses perekrutan karyawan baru, harus banget ditulis kriterianya mesti Laki-laki atau Perempuan? #nyinyir
Hasil ngobrol sama Monang di beberapa minggu lalu, kita juga bahas bahwa memang ada peran budaya sehingga perempuan seringkali dipandang sebelah mata, dianggap gak mampu, makhluk lemah tak berdaya. Padahal ada isu yang lebih besar dari gender equality, yaitu empowerment (pemberdayaan). Dua hal ini menurut gue saling terkait. Kayak gimana kita (perempuan) bisa meng-empower orang lain kalau kita masih sibuk dengan isu gender equality. Tapi gimana juga kita mau memperjuangkan hak-hak gender kita kalau kita nggak ter-empower-kan.
Gender equality?
Gender equality atau kesetaraan gender, tentunya ada kesetaraan antara laki-laki dan perempuan untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan memilih tanpa adanya keterbatasan yang ditetapkan oleh stereotip, peran gender yang kaku dan prasangka-prasangka.
Many people thought, today’s women have more choices & control in our lives. We had the most choices in education, the least in career choices. But in reality many women hardly access that opportunities. Masih banyak banget yang menganggap perempuan tidak penting untuk bisa mengembangkan dirinya. Perempuan dianggap sebaiknya tidak lebih maju daripada laki-laki.
Jadi, women empowerment itu apa?
Kalau gue yang pernah gue baca di Huffington Post, sebenarnya nggak ada arti yang baku dari women empowerment itu sendiri. Empowerment adalah sebuah proses. Proses dimana seseorang yang sebelumnya “tidak bisa” menjadi “bisa”. Terkait dengan women empowerment berarti bagaimana perempuan bisa mengontrol apa yang ingin dicapainya.
Gue yakin, most of women in earth sebenernya pengen baget melakukan banyak hal dalam hidupnya tapi karena adanya diskriminasi gender, tuntutan lingkungan atau budaya, membuat mereka memilih diam. Mereka pun akhirnya nggak mampu meng-empower dirinya sendiri. Perempuan dianggap tidak bisa melakukan banyak hal. Tapi bukannya laki-laki juga tidak bisa melakukan banyak hal? Hehe.
Gue salut sama perempuan-perempuan di luar sana yang mampu menyuarakan tindakan diskriminasi gender, memperjuangkan hak-hak perempuan sebagai manusia. Banyak orang lupa, perempuan itu adalah manusia. Ia punya keinginan-keinginan yang ingin di capai. Ketika kesempatan itu ada, mereka bahkan tidak dipermudah.
Kenapa ini penting?
Barack Obama, mantan presiden US, pernah bilang; When women succeed, nations are more safe, secure and prosperous. Segitu pentingnya peran perempuan bagi masyarakat bahkan negara sekalipun. Tapi ada berapa sih jumlah perempuan di kabinet kementrian Indonesia? #nyinyir
When women empowered means marginalizing power in women and girls so that they can play a significant role in the society.
Tapi balik lagi ke pertanyaan gue, gimana bisa perempuan terbedayakan kalau mereka masih mengalami diskriminasi gender. Gimana bisa perempuan menempatkan dirinya pada peran-peran penting di masyarakat kalau kesempatan memperoleh pendidikan saja tidak dibuka untuk mereka?
Maka yang paling pokok adalah bagaimana menghentikan diskriminasi gender itu sendiri.
Gue nulis ini bukan berarti gue feminist garis keras. Gue masih bisa memahami bahwa pada agama dan kepercayaan gue Laki-laki masih dianggap lebih “tinggi” daripada Perempuan. Tapi dalam bermasyarakat gue rasa Perempuan harus mulai diperlakukan setara dengan Laki-laki. Kami bisa memperoleh kesempatan yang sama dengan Laki-laki. Dan tentunya menghentikan becanda-becandaan kayak “lo kan cewek.” Atau “emang cewek bisa?”
Well, inilah catatan singkat gue yang lebih ke arah curhat sebenernya. Ups. Tulisan ini gue tulis murni karna gue kesel kenapa gue dianggap nggak bisa hanya dengan alasan gue perempuan. :( Ditulis jam 5 pagi dengan kondisi kurang kafein. Haha
Have a good day!
Liris Kinasih
**picture randomly taken from Pinterest**

Comments
Post a Comment