Kasus 1: Gue
ketemu sama cowok. Dia slenge’an,
tapi dia pendengar yang baik. Dia selalu mau denger cerita gue yang sangat
sangat random. Gue banyak ngobrol sama dia sampai akhirnya gue deket. Tapi ada yang
membuat gue dan dia gak bisa, well agak
geli ngetiknya, pacaran. Karena dia udah
punya pacar. Gue dan cowok itu udah terlanjur jadi deket banget. Dia ada di
setiap my good and super bad day – for months. Gue pernah tanya, “Kenapa sih lo
gak putusin cewe lo, trus pacaran sama gue?” Dan jawabannya dia just simply
because he loves her. “Kalo lo gak bisa putusin cewe lo, kenapa masih tetep
deket sama gue?” And then just simple because he likes me, he likes to spend
time with me. Atau pertanyaan lain kayak, “kalo cewek lo tau kedekatan kita,
apa yang bakal lo lakuin?” And he said, “gue bakal ngademin dia terus gue bakal
balik lagi ke lo.” Berkali-kali gue mikir, “Kenapa? Kok bisa dia deket sama gue
tapi nggak mau ngelepasin pacarnya?”.
Kasus 2: Gue
dikenalin sama cowok. Dia cerdas. Obrolan panjang gue sama dia aja waktu itu
tentang kesetaraan gender. Topik yang sangat nggak biasa buat dua orang ketemu
karena dicomblangin. Gue suka sama dia. Semuanya hampir sempurna setelah temen
gue cerita kalo dia juga suka sama gue. Tapi dia jarang chat gue, telepon gue
atau bahkan ngajak ketemuan. Beberapa kali setelah itu, kita masih ketemu dan
dia tetap cowok asik yang pertama kali gue temui. Belakangan gue tau kalo
ternyata dia itu abis putus sama pacarnya yang udah bertahun-tahun dia pacarin.
Oh, belum move on ternyata mas-nya. Tapi kenapa dia memilih mencoba untuk deket
sama orang lain, kalo ternyata dia belum mau move on?
Sebentar,
gue mau misuh-misuh dulu. Kenapa ya gue mesti ketemu cowok yang gak bisa
dijadiin pacar, karena yang satunya udah punya pacar yang udah bertahun-tahun
dia pacarin dan yang satunya belum bisa dari move on dari pacar bertahun-tahunnya.
Kalian anggap gue apa, hei?
Anyway, sebenernya yang
mau gue bahas adalah tentang zona nyaman. Setiap orang punya zona nyamannya
sendiri. Zona nyaman ini di bentuk karena kita akan terus merasa nyaman di zona
itu. Entah karena di zona itu kita diakui, disayang dan semua bentuk emosi
positif lainnya. Kita akan merasa baik-baik aja ketika berada di zona itu. Kita
boleh babak belur di luar zona itu, tapi ketika kita berada di zona nyaman lalu
triiingggg semua (seakan-akan) baik-baik aja. Dan nggak salah juga sebenarnya
kalo kita punya zona nyaman. Karena secara naluriah, manusia akan mencari apa
yang bikin nyaman. Ada banyak orang akan sulit untuk keluar dari zona
nyamannya. Tapi ada juga yang mudah berganti zona nyaman. Orang-orang ini
bahkan nggak membuat zona nyaman buat dirinya sendiri.
Terus gimana
sama si Gue ini yang kok rada-rada sotoy?
Ya, gue pun punya zona nyaman. Dimana gue melepas emosi negatif dan
semua perasaan gak enak lainnya. Gue bisa ngerasa “baik-baik” aja ketika ada di
zona itu. Dan karena gue tau gue punya zona nyaman, gue jadi sering “kabur” ke
zona itu tiap kali gue ngerasa hidup
kerasa nggak enak. Kalian gitu juga sih?
Pada awalnya gue merasa seneng-seneng aja punya zona nyaman
sampai zona itu nggak lagi nyaman gue. Karena justru kondisi yang nyaman itu
bikin gue gampang cemas. Cemas kalau kenyamanan ini hilang. Cemas kalau gue
jadi terlena sama kenyamanan itu. Cemas
kalo gue gak bisa nemuin zona nyaman lain kedepannya. Cemas kalo gue nanti
cemas akan kecemasan itu. Well, anxiety combo.
Beberapa
minggu terakhir ini, gue rutin ngelakuin mindfulness therapy dan juga meditasi.
Awalnya hanya untuk “ngurusin” kecemasan gue ini. Tapi karena hampir tiap hari
gue jadi rajin meditasi, gue mulai bisa fokus sama hal-hal dalam hidup gue. Yakin
nggak sih, gue sama zona nyaman yang gue punya saat ini? Yakin nggak sih, zona
nyaman ini bener-bener bikin gue nyaman? Dan sayangnya, jawabannya adalah
nggak.
Gue nggak
lagi ngerasa nyaman dan aman di zona yang gue buat. Gue jadi sering cemas cuma buat
ngurusin zona nyaman gue. Dan akhirnya gue memutuskan buat berhenti membuat
zona nyaman itu. Gue berusaha untuk menikmati waktu yang gue punya dan
perasaan-perasaan yang gue rasa. Kalo lagi marah, ya terima rasa marah itu. Kalo
gue sakit hati, kesel, murka…ya terima juga perasaan-perasaan itu. Bukannya “kabur”
ke zona nyaman dan berharap semuanya akan baik-baik aja. Tapi bukan berarti
zona nyaman itu nggak penting. Buat gue sendiri, hal itu nggak penting saat
ini.
Dua kasus cowok di atas adalah salah dua dari cerita tentang zona nyaman. Kasus 1, dia
gak sadar kalo cewenya adalah zona nyamannya. Dia bisa ngerasa useless,
meaningless, you named it. Tapi dia bakal tetap balik ke pacarnya. Dia tetap
mempertahankan zona nyamannya. Buat kasus 1 ini, gue ngerasa mas-nya ini takut
banget keluar dari zona nyamannya (pacarnya) dan ragu-ragu buat buat zona
nyaman baru (itu gue!).
Kasus 2, dia juga gak sadar kalo perasaannya
ke (mantan) pacarnya itu adalah hal yang membuatnya nyaman. Dia ngerasa belum
siap buat nerima perasaan lain selain perasaannya nyaman-nya akan patah hati. Gue
yang awalnya bisa suka sama dia, siap nerima segala kelebihan dan kekurangan,
akhirnya ngerasa kalah karena dia lebih nyaman dengan patah hatinya ketimbang
perasaan lovey dovey (wew) yang gue tawarkan.
Pada
akhirnya, hidup ini adalah pilihan. Siapa pun berhak untuk memilih siapa atau
apa yang menjadi zona nyamannya. Dan gue (sedang) belajar untuk menjadikan diri
gue sendiri sebagai zona nyaman gue.
By the way,
gue nulis ini pas lagi ngopi-ngopi di Gordi. Tempatnya enak banget buat nulis
dan kopinya pun enak. Mungkin kapan-kapan gue bisa review tempat-tempat yang
oke buat nulis.
Have a nice
day,
Liris

Comments
Post a Comment