Skip to main content

Zona Nyaman pt.2

Hari ini hari minggu. Dan karena satu dan lain hal, nggak bisa keluar rumah. Jadi weekend ini emang recharging energi buat weekday besok. Dua hari ini cuma diisi dengan leyeh-leyeh di kamar seharian, nonton vlog orang-orang, dengerin lagu, meditasi dan nulis. Hm..weekend yang menenangkan.

Dan dari bahasan tentang zona nyaman di postingan sebelum ini, gue seneng banget ternyata ada yang baca dan kita jadi diskusi dan saling tukar pikiran. Sebenernya tulisan gue tentang zona nyaman itu berdasarkan pengalaman aja. Pengalaman gue sendiri tentang zona nyaman itu. Di postingan sebelum ini, gue sempet bilang kalo gue gak nyaman sama zona nyaman gue sendiri. Gimana bisa? So..let me tell you stories…

Beberapa dari kalian mungkin tau kan ya, kalo gue punya sedikit masalah tentang kecemasan. Gue sudah melakukan berbagai cara untuk mengatasi kecemasan berlebihan gue. Salah duanya adalah dengan konseling sama psikolog dan belajar meditasi. Sebenarnya psikolog dan guru meditasi gue hanya bertindak sebagai fasilitator aja. Pada akhirnya, yang bisa mengatasi kecemasan gue ya diri gue sendiri.

Dari sesi konseling dan meditasi itu, gue sadar bahwa ternyata kecemasan itu sendiri adalah zona nyaman gue. Ketika gue menghadapi suatu hal yang gak enak atau mengganggu, dengan mudah gue jadi cemas. Ketika cemas banyak hal yang gue lakukan kayak nangis sesegukan, jambakin rambut sampai yang ekstrim sekali pun. Setelah gue ngelakuin hal-hal itu, gue ngerasa lebih tenang dan bisa ngerasa fine-fine aja setelahnya. Dan pola seperti itu berlangsung cukup lama dan tanpa gue sadari jadi zona nyaman gue. Cemas – do silly things ­– tenang – cemas – do silly things – tenang – dan begitu seterusnya. Menjadi cemas adalah ‘kenyamanan’ buat gue ketika gue menemukan hal yang gak enak atau mengganggu. Gue gak berani menghadapi hal yang gak enak tersebut dan memilih untuk cemas. Dan selama ini gue gak sadar, hmm…atau gak mau mengakui hal ini.

Di salah satu sesi meditasi, guru gue minta gue menggenggam batu yang rada tajem. Dia minta gue menggenggam itu erat-erat. Dia tanya, “sakit nggak ris?” yang pengen gue jawab lantang “YA MENURUT NGANA AJA”. Dia minta gue tetep genggam itu batu walaupun sakit. Dia bilang gini, “sama seperti kecemasan yang kamu rasakan. Awalnya terlihat gak baik-baik aja, tapi lama kelamaan kamu akan ngerasa “biasa” dengan kecemasan kamu. Awalnya kamu akan ngerasa sakit pas genggam batu ini, tapi lama kelamaan tanganmu akan beradaptasi dengan rasa sakit dan kamu akan ngerasa oke aja.”

Omongan guru meditasi itu bikin gue flashback sama kejadian kecemasan yang gue alami. Dan gue pun menyadari, kecemasan adalah zona nyaman dan cara gue “melarikan diri” dari hal gak enak yang gue alami. Hal gak enaknya tuh apa aja? Perpisahan, putus cinta, dicuekin sampai hal-hal yang mungkin receh kayak mendadak diminta presentasi di depan dept head di kantor. Gue lebih seneng “melarikan diri” ketimbang menghadapi hal-hal gak enak itu tadi.

Sebenernya jauh sebelum gue rutin konseling dan meditasi, Diah udah beberapa kali bilang ke gue tentang hal ini, “Lo-nya jangan kabur juga. Terima dan hadapi semua hal-hal yang gak enak itu”. Dulu gue gak paham gimana sih caranya terima dan hadapi. Dan masih ngerasa kalo cemas berlebihan itu wajar. Alhamdulillah ya ternyata pikiran gue dibuka setelah rutin konseling dan meditasi itu sendiri.

Gue sama Diah -yang ternyata se-almamater. :D

Terus, masih suka cemas gak ris? Masih. Beberapa kali gue masih ngerasa cemas berlebihan. Walaupun makin kesini, gue makin aware sama kondisi kecemasan gue. Kalau udah ngerasa mulai cemas dan ngerasa gak bisa langsung balik ke normal, sekarang lebih banyak latihan nafas (thanks to my meditation sessions) atau nulis (write to heal is still my helper). Dan yang penting juga adalah sharing tentang kecemasan gue. So, thanks buat teman-teman gue yang sering banget gue gangguin setiap kali gue cemas. Love you guys. Mwah.

Buat kalian yang baca tulisan ini, sekali lagi ini tulisan yang gue tulis berdasarkan pengalaman gue. Dan gue bakal seneng banget kalo bisa tau cerita dari sisi kalian. J Terima kasih ya sudah mau baca tulisan ini.

Have a great day,


Liris

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....