Skip to main content

Turning 29!

Huuaaa I’m turning 29 today. Antara bahagia, sedih, bersyukur sampe terharu bisa ada di umur segini. Tahun terakhir sebelum memasuki gerbang umur 30-something #azeeg.

going to be 30 something, so what?


Sebenernya sama seperti di momen ulang tahun tiap tahunnya. Gue akan lebih banyak berkontemplasi apa hal-hal yang udah gue capai sepanjang hidup, pelajaran apa yang gue dapet tiap tahunnya. Gue selalu berharap bisa jadi orang yang lebih baik dan bermanfaat tiap tahunnya.

Hari ini, di umur 29 tahun, gue merasa sangat bersyukur buat segala bentuk nikmat yang Allah kasih. Baik berupa rejeki, kesehatan, temen-temen dan keluarga yang super baik. Ada kalanya sebelum gue mencapai umur 29, gue sering banget ngebandingin diri gue sama orang lain. Terutama yang seumuran.  Kebanyakan orang di umur 29, udah nikah, punya pekerjaan di posisi lumayan tinggi, punya rumah, punya mobil, hidup enak deh intinya. Tapi gue jadi mikir, emang selama ini hidup gue gak enak? Ah, ternyata tetep enak kok.

Setiap pagi masih bisa ketemu orangtua. Ngobrol-ngobrol singkat. Masih dibawain bekal makan siang (hampir) setiap hari. Masih dibangunin pagi-pagi buat olahraga. Masih ada yang ngurusin ini-itu.

Setiap hari masih punya tujuan kerja. Bukannya masih nyari kerjaan. Walaupun dunia kerja ya ada aja yang bikin stresnya, tapi apa yang gue kerjain sekarang adalah hal yang emang gue suka. Walaupun tiap hari kerja masih harus naik kendaraan umum, tapi gue happy aja karena biasanya gue lebih banyak tidur sih kalau di bis TransJakarta. Haha.

Gue punya temen-temen yang super baik. Yang walaupun gue stresnya kayak apaan tau di kantor, tapi masih aja bisa ngehibur dengan receh-recehnya yang ciamiks. Yang bisa gue gangguin tengah malem buat curhat-curhat. Yang selalu ingetin gue beribadah (walaupun seharusnya mah ya nyadar diri aja ya…ehehe). Yang nggak segan-segan negur gue kalo gue salah. Yang mau gue ajak berbagi suka dan duka. Ah, I love you full guys.

Gue punya guru meditasi dan psikolog yang bisa bantu gue untuk memulihkan kondisi kesehatan mental gue. Yang selalu ngingetin untuk bisa lebih banyak “ngobrol” sama diri sendiri.

Dan masih banyak hal yang gue masih bisa gue syukuri. Bahwa hidup seperti yang gue jalani saat ini adalah versi terbaik yang Allah kasih ke gue. Gue percaya dan meyakini kalau jalan hidup gue ya emang harus begini adanya. Bahwa menjadi berbeda dari orang lain, bukan suatu yang harus gue sesalkan.

Karena belum tentu kalo hidup gue kayak Raisa, gue bakal happy. Tapi tentunya akan sangat happy karena ya ampun punya suami kaya Hamish apa rasanya. #lah #ehgimana

Iya udah, jangan diliatin mulu ntar halu. © The Bridestory


Sama seperti doa di tiap tahunnya, supaya gue bisa diberikan kekuatan hati dan pikiran untuk bisa menjalani hidup ke depannya. Amiin.

Terima kasih untuk teman-teman, keluarga dan siapa pun yang sudah memberikan ucapan dan doa di hari ini. Aku senang sekali.

Ketemu lagi tahun depan?

Hmmm


Have a great day,


Liris

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....