Skip to main content

Hi, again.

This is an epic week for me. Setelah hampir 15 tahun nggak ketemu, akhirnya gue ketemu lagi sama temen-temen SD. What a reunion! Kebaperan Cinta-Rangga di film AADC2 (yang nggak ketemu 9 taun) nggak ada apa-apanya dibanding kebaperan gue ketemu temen-temen SD gue.

Gue termasuk yang paling nggak update kabar dari temen-temen SD. Well, jaman dulu lulus SD belum ada tuh media sosial. Jadi kalau mau menjalin silahturahmi yang mesti telepon atau nyamperin ke rumah temen lo itu. Dan..sayangnya, rumah gue itu jauh dari lingkungan rumah temen-temen gue. Jadi ya singkat cerita, gue ilang kontak sama sekali sampe akhirnya Mark Zuckerberg meluncurkan Facebook. So thanks Mark! Mulai deh dari situ mencoba menjalin kontak dengan mereka. Facebook sangat membantu gue untuk tau kabar mereka tanpa perlu gue sering "ngobrol" sama mereka. Yah..liat aja statusnya, foto-fotonya. Ketauanlah ya gimana hidup mereka. Jadi berasa akrab aja sama mereka. Di dunia maya.

Walaupun baru sedikit, tapi udah seneng banget ketemu mereka.


Sejauh itu, silahturahmi gue sama mereka udah mulai membaik. Jadi nggak terlalu kuper juga sama mereka. Tapi karena gue sempet tinggal di Bandung selama 6 tahun, gue nggak pernah ikut tuh kumpul-kumpul. Hidup gue sama hidup mereka cuma tercipta di dunia maya aja. Gue nggak mampu "menyentuh" mereka di dunia nyata.

Sampai akhirnya, sekitar awal tahun ini gue sempet kontak sama salah satu temen gue yang tinggal di Jerman, namanya Adya. Waktu itu gue pengen banget bisa kirim postcard ke Jerman. Dan dia jadi korbannya. Haha. Dan nyampe pula ya kan postcardnya di Jerman. Kirain bakal ilang di tengah lautan. Hehe. Dari obrolan singkat itu lah Adya share kalo dia bakal balik sebentar ke Indonesia.

Dia beneran balik ke Indonesia, ternyata. Setelah atur jadwal sana sini macam mau ketemu Jokowi, akhirnya kita ketemu. Dan senangnya adalah ketemu juga sama temen-temen yang lain. Well, awalnya gue awkward banget. 15 tahun nggak ketemu, what do you expect? Tapi ternyata mereka masih mereka yang dulu gue kenal. Ternyata mereka nggak jadi asing buat gue. Ya tetep butuh waktu untuk munculin memori-memori itu lagi. Beruntung memori gue nggak jelek-jelek banget lah ya. Masih cukup banyak yang gue inget tentang mereka.

15 tahun nggak ketemu, kalian tau apa yang kami bicarakan? Revolusi Mental. Yap. Setelah 15 tahun, bahasan seru yang dibahas adalah revolusi mental. Ini yang mengingatkan bahwa kami bukan lagi anak kecil yang hidupnya simple, cuma mikirin main. Kam belajar juga sama Adya yang punya pengalaman hidup di negara maju. Malah gue jadi semangat juga untuk membangun negeri. Haha. Kok, jadi kayak tagline Bank gitu ya.

Setelah 15 tahun, banyak tahun-tahun yang terbuang, sebenernya ada penyesalan juga. What did I do for the last 15 years? Walaupun nggak bikin shock juga mereka jadi berubah, tapi sedih juga bahwa sedikit banget memori gue sama mereka di 15 tahun kebelakang. Memori gue tentang mereka kebanyakan mentok di waktu lulus SD aja. Setelahnya, baru gue buat sendiri minggu ini setelah ketemu mereka. It was so much fun. Banyak dapet ide-ide dari cerita mereka. Ini yang bikin gue semangat nulis ini jam 2 pagi buta gini. Supaya memorinya nggak keburu ilang dibawa mimpi.

Honestly, I feel so blessed. Ini seperti menemukan kepimgan-kepingan memori lama untuk dibuat memori baru. Iya, gue baper. But it's truly comes from my bottom heart, I AM SO HAPPY TO MET THEM AGAIN. Semoga setelah ini kami masih bisa ketemu dan sharing lagi. Rasanya nggak cukup 2 hari ketemu mereka.

Ini Adya. Iya. Dia "bertumbuh". Gue nggak.

So, I'd like to thank you to Adya. Kalo dia nggak beneran balik ke Indonesia, mungkin gue masih akan susah "menyentuh" mereka di dunia nyata. Berpura-pura akrab di dunia maya. :)

"Rejeki itu bukan sekedar Uang. Bahkan Teman yang baik itu adalah rejeki yang harus disyukuri."

See you when I see you!!

Liris
4 Juni 2016
Jam tiga pagi.

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....