Skip to main content

Celoteh Rindu

Rindu

Aku rindu
Dua kata yang kupikir hanya ilusi
Sampai kau hadir
Tersenyum didepanku

Pernah ku mengabaikanmu
Tak mengindahkan hadirmu
Kemana dulu kamu pergi?
Kemana dulu aku pergi?
Lalu kenapa kemarin itu kita bertemu?

Aku rindu
Banyak waktu yang terbuang
Bolehkah kita mulai lagi?

Menata kembali waktu untuk kita nikmati bersama
Karna ada rindu yang harus segera kita kerjakan

***

Imajinasi

Imajinasiku mampu menghadirkanmu
Duduk disebelahku memandangi hujan

Imajinasiku mampu menjemputmu pulang
Memelukmu erat tanpa mau lepas

Kubiarkan kau bersemayam lebih lama
Menikmati waktu yang kita punya

Bukan kita
Mungkin hanya aku

Ruang imajilah yang mengizinkan kita untuk bersua
Ruang tak kasat mata
Tempat beribu emosi saling bertemu
Imajinasiku.

***

Ruang waktu

Saat denganmu tak pernah kuinginkan habiskan waktu
Bagaimana jika waktu telah kita habiskan?
Apakah kau tetap ingin bertemu denganku?

Saat denganmu tak pernah kuinginkan membunuh waktu
Karena dengan waktu lah, kita mampu saling menyapa, bertukar imaji

Aku hanya tak sanggup memikirkan kehilangan waktu denganmu

Ruang waktuku hanya akan terasa ada ketika kamu hadir

Bisakah kita terus menikmatinya,
Membawanya hadir dalam ruang imaji dan kenyataan?

***

Terima kasih telah pulang sebentar
Mengecup kebahagiaan walau sekejap
Kau mengingatkanku pada harapan yang sempat pudar
Kusimpan setiap gerakmu dalam memori
Takut ia akan hilang tak berbekas
Mengecap semua rasa pada indera, menghafal rasamu
Takut-takut ia takkan hadir lagi
Terima kasih telah pulang sebentar
Mengantarkan cerita untuk kubuatkan buku sampai kau pulang kembali

***

Jakarta, 21 Juni 2016

Liris

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....