Skip to main content

New York State of Mind



I guess New York is a good place for people who need some inspirations. New York seems a fabulous city in the world. Many people comes to New York to see how incredible this city. It comes in many scene of films, song lyrics and novels. I never been there but I am sure New York is really amazing.

Akhir-akhir ini gue baca beberapa novel tentang New York. Dari beberapa novel itu, The Architecture of Love (TAOL) by Ika Natassa dan I Heart New York (IHNY) by Lindsey Kelk, memberikan beberapa kesamaan. Kesamaannya adalah it's all about love, New York (of course!) and writing. Tokoh di masing-masing novel memiliki background yang sama, yaitu penulis. Tapi bukan berarti kedua bukunya 100% sama persis ya. Walaupun tokohnya sama-sama penulis, mereka memiliki motif menulis yang berbeda. Raia in TAOL comes to New York because she needs inspiration to write a story. She got writer block, semacam kondisi yang dialami oleh penulis karena (sepertinya) kehabisan ide untuk menulis. Sedangkan Angela in IHNY comes to New York because she got dumped by her ex-boyfriend. New York adalah kota yang belum pernah didatanginya dan berharap New York bisa membantunya untuk melupakan mantan pacarnya.

Yang menarik dari kedua novel tersebut bagaimana mereka menceritakan bagaimana serunya kehidupan di New York. TAOL banyak bercerita tentang tempat-tempat dengan arsitektur yang indah sedangkan INHY bercerita tentang tempat-tempat seru untuk berbelanja, kafe atau restaurant untuk nongkrong atau pun club-club malam di New York. New York bukan cuma jadi latar cerita dibuat tapi juga menjadi bagian dari cerita itu sendiri. Keduanya mampu memunculkan sudut-sudut New York untuk dapat diceritakan.  It was really fun to read the story both from Ika and Lindsey. New York gives a lot of vibrants.

Selain keseruan kota New York yang menarik dari kedua novel tersebut adalah bagaimana novel ini sama-sama bercerita tentang Muse dalam menulis. Di novel TAOL, Ika Natassa menjelaskan bagaimana setiap penulis memiliki Muse-nya masing-masing. Semacam their biggest inspiration. Sesuatu atau seseorang yang mampu  membuat para penulis ini menulis dengan lancar. Mungkin sama seperti Taylor Swift yang menjadikan para mantannya sebagai Muse-nya menulis lirik lagu. Ya semacam itu lah ya.. Di dalam novel IHNY pun, Angela menjadikan pasangan barunya sebagai Muse-nya dalam menulis. Walaupun pada awalnya seperti dipaksakan, tetapi Ia berhasil menulis banyak artikel karena Muse-nya tersebut. 

Mungkin kalian bisa menebak siapa Muse gue dalam menulis. Dia hadir hampir di seluruh tulisan gue. Awalnya gue sendiri nggak sadar tentang Muse gue. Sampai akhirnya gue baca novel IHNY dilanjut baca TAOL. Dan pada saat ini gue juga ngalamin writer block. Sempet bingung juga. Udah di coba dengan dengerin lagu, baca buku atau nonton film-film, tetep aja ide buat nulisnya nggak ada. Kalau yang sering menulis pasti tau kondisi kayak gini lil bit frustated ya nggak sih.

Karena nggak ada ide buat nulis, gue akhirnya baca-baca lagi tulisan gue. Baik yang dipublikasikan dan yang nggak. And that point I realized who are my biggest inspiration. And I laughed. How funny it is. Sekian lama ngerasa bingung gimana bisa nulis lagi, ternyata Muse-nya adalah......ya sudahlah ya. Hahaha.

Well, terlepas dari cerita Muse, novel TAOL dan INHY are recommended enough to read. Walau khusus untuk TAOL, karena saya termasuk orang yang mengikuti karya-karya Ika Natassa, I would say TAOL has a different way to end the story. Not bad but tetep kurang greget. Eh, kok malah spoiler. Hehe. Kalian akan melihat bagaimana New York diceritakan dari penulis yang berbeda dan dengan gaya bahasa yang berbeda. Kesan yang gue dapat setelah baca TAOL...hangat dan romantis. Kalau IHNY, fun and bubbling. Serulah pokoknya mah.

Anyway, nggak ada yang mau ajak gue liburan ke New York? *smirk*

Love,

Liris Kinasih

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....