![]() |
| Photo credit to Diah Ramli |
Cerita yang kali ini gue tulis adalah pengalaman gue melakukan Write To Heal (WTH). Yang mau tau, Write To Heal itu apa, bisa klik di sini ya :) Buat kalian yang kenal gue secara personal, mungkin tau gue secara rutin melakukan WTH. Walaupun tahun ini gue belum membuka lagi sesi umum. Lebih banyak ngelakuinnya sendiri.
Mungkin sebagian dari kalian tau kalo gue punya kebiasaan cemas. Eh, itu kebiasaan atau emang perilaku aneh ya? Hehe. Well, gue emang sering dilanda kecemasan. Beberapa kali gue share di IG story setiap kecemasan gue mulai reda. Dan satu waktu, ada yang tanya apa sih sebenernya ada di kepala gue sampe gue bisa kayak gelisah atau cemas kayak gitu.
![]() |
| Salah satu pertanyaan tentang kecemasan gue |
Well, tulisan ini adalah yang gue tulis di tanggal 7 Mei kemarin. Mungkin bisa sedikit menjawab pertanyaan apa yang terjadi ketika gue lagi “kambuh”. Kondisinya saat itu adalah tiba-tiba gue ngerasa cemas karena satu kejadian di kantor hari itu. Terus malemnya, salah satu temen gue ‘menolak’ untuk ketemu sama gue. Walaupun gue tau alesannya kenapa, justru itu bikin jadi tambah cemas.
Sebagai catatan, karena ini sesi WTH jadi tata bahasanya mungkin akan sangat acak adut. Mohon dimaklumi yaa.. :)
==
7 Mei 2018
I feel like, I’m nobody’s priority. I hate any kind of rejections. I’m scare about that. Aku ngerasa gak bisa ngontrol pikiran & perasaanku ketika aku berhadapan dengan bentuk rejections. Aku ngerasa ketika orang reject aku, aku ini gak berguna, aku gak pantes, aku gak pantes dapetin apa yang aku mau. Aku takut sama perasaan-perasaan kayak gini. Gimana caranya aku bisa nerima perasaan kayak gini? Menerima rejections itu memang sesakit ini. Menerima kalo aku memang bukan prioritas siapa pun. Menerima kalo aku memang belum pantes untuk dapetin apa yang aku mau. Aku ingin bisa menerima semuanya. Melepas apa yang seharusnya aku lepas. Aku takut, aku cemas, aku paranoid. Aku lelah kayak gini terus. Aku mau menerima semua sakit & bahagia. Bagaimana caranya menerima. Gimana caranya mengikhlaskan? Sekuat apa aku bisa menanggung semua ini? Aku ingin semua ini berakhir. Aku mau semua ini menyatu & aku menghilang. Kenapa semua ini terasa melelahkan? Aku seperti orang gila. Ketakutan-ketakutanku. Aku lelah berharap semua akan baik-baik saja. Karena nyatanya seperti ini. Aku ingin menerima semuanya. Bahwa gak selamanya semua baik-baik aja. Semuanya. Aku ingin menerimanya. Menerima semuanya. Mengikhlaskan semuanya menyatu dalam diriku. Aku mau balik lagi ke normal. Balik lagi ke kehidupan yang tampak baik-baik saja. Aku takut akan segala bentuk rejections ini. Aku harus benar-benar berhenti berekspektasi tinggi. Gak semuanya harus berjalan dengan apa yang aku inginkan…
Aku gak bisa ngontrol serangan cemas ini. T_T
==
Tulisan ini ditulis kurang dari 20 menit, gak sesuai dengan ‘aturan main’ dari WTH. Kondisinya saat itu memang gue dalam keadaan cemas. Apa yang terjadi ketika gue cemas? Secara fisik gue akan tremor, susah nafas atau malah kadang gue jadi nahan untuk gak napas. Respon yang biasanya gue lakuin ketika cemas adalah nangis sesegukan. Gue nangis karena gue takut. Gue takut akan kecemasan gue sendiri. Dalam respon yang lebih ekstrim, gue bisa ngelakuin self harm/self injury. Dari ‘cuma’ sekedar jambakin rambut, jedotin kepala ke tembok sampai menyilet tangan sendiri. Kondisi ekstrim-ekstrim itu terjadi tiap gue merasa nggak bisa lagi mengontrol kecemasan atau ketakutan gue.
Aneh ya?
Gue sadar, proses gue buat ‘sembuh’ masih panjang banget. Selama gue masih belum bisa menerima diri gue sendiri dan terus-terusan denial sama banyak hal. Atau sampai gue bisa mencintai dan peduli sama diri gue sendiri. Gue sadar prosesnya akan sangat melelahkan. Seperti yang berkali-kali gue tulis di WTH. Proses panjang dan melelahkan ini mungkin melibatkan orang-orang di sekitar gue. Gimana temen-temen gue mungkin juga lama-lama lelah menghadapi gue yang suka tiba-tiba kena serangan kecemasan.
Salah satu hal yang bisa bantu gue adalah WTH. Beberapa sesi WTH terakhir, gue mulai banyak nulis tentang penerimaan diri sendiri. Gue sadar, kadang yang bikin gue kurang bisa mencintai diri gue sendiri adalah karena banyak denial yang gue lakukan di pikiran gue. Denial ini lah yang (mungkin) menyebabkan gue sangat mudah kena sarangan panik/cemas.
Menulis dan bercerita (melalui tulisan ini) adalah cara gue berproses untuk menerima diri gue sendiri. Belajar untuk memaafkan diri sendiri. Gue memang mencoba untuk tetap fokus dengan menulis. Writing helps me. At least, mempercepat kondisi gue dari cemas jadi normal lagi. Melalui proses menulis ini, gue berusaha menerima kondisi gue yang "gak baik-baik aja". Kondisi ini bukan berarti hidup gue jadi sia-sia tapi menerima bahwa hidup itu memang nggak selalu "baik-baik aja".
Then, thanks for reading my stories ya :)
Love,
Liris Kinasih


Comments
Post a Comment