Skip to main content

Perempuan dan Pendidikan



Pernah nggak kalian denger, “ngapain sih perempuan sekolah mesti tinggi-tinggi?” atau “yaelah, capek-capek kuliah S2 ujung-ujungnya juga jadi Ibu Rumah Tangga” atau yang paling jahat “lo tuh belum jadi ibu sepenuhnya, masa anak yang ngurus malah Asisten Rumah Tangga”. Kalo gue sih, sering banget denger pernyataan-pernyataan kayak gitu. Gue, si perempuan yang umurnya hampir 30 tahun, punya pekerjaan tetap dan belum menikah, malah sering denger “elo sih, kebanyakan kerja. Makanya susah dapet pacar. Kapan nikahnya kalo gitu?”. BUKAN URUSAN LO. Pernyataan-pernyataan kayak gitu emang bikin emosi ya seringnya.

Anyway, perempuan hampir selalu diidentikkan dengan ‘kodrat’nya untuk menikah, punya anak, ngurus suami dan jadi ibu rumah tangga. Ya emang sih, itu pilihan hidup orang. Tapi bukan berarti harus jadi pilihan hidup SEMUA perempuan di Indonesia. Gue pernah membuka topic diskusi dengan salah seorang teman. Dia perempuan, punya pekerjaan tetap, belum menikah saat itu dan punya impian segera dinikahi pacarnya. Topik yang gue bahas adalah perlu nggak sih gue ambil kuliah S2 atau ngejar karir aja gitu. Ekspektasi gue ini akan jadi topik diskusi yang seru. Secara waktu itu, kita berdua sama-sama single dan sama-sama perempuan yang bekerja. Tapi ternyata itu hanya berupa percakapan singkat aja, yang dikomenin temen gue adalah “mending lo cari suami aja, Ris. Yang udah mapan kalo bisa. Jadi hidup lo terjamin. Nggak usah capek-capek kuliah S2 lah ntar juga ujung-ujungnya lo di suruh ngurus rumah.” Udah. Gitu doang. Gue pancing-pancing biar rada seru dikit lah diskusinya. Ujungnya tetep sama, cari suami-nikah-ngurus rumah. Hahaha.

Pengalaman lain, ceritanya nih gue dideketin sama cowok (#CIE). Umurnya nggak beda jauh dari gue, kerja di BUMN, rajin menabung dan baik hati. Seriusan dia rajin nabung. Eh, rajin nabung sama pelit tuh beda tipis nggak sih? Haha. Dia pernah tuh ngajak gue diskusi tentang pernikahan. Ya gitulah dia tipe-tipe yang pengen cepet nikah gitu. Pas dia tanya, “lo rencananya mau nikah kapan, Ris?”. Dan gue sambil cengengesan bilang “kok gue malah kepikirannya punya rencana kuliah lagi ya. Ehehe.” Inget ya, sambil cengengesan karena awkward banget belum deket-deket banget udah ditanyain kapan nikah. Terus respon dia, “kok lo kayak nggak serius gitu sih sama rencana hidup lo sampe nggak mikirin kapan nikah”. JADI MENURUT NGANA, EIKE MAU KULIAH LAGI ITU BUKAN RENCANA HIDUP YANG SERIUS? Dan gue ilfeel seketika. PDKT nggak berlanjut. Hahaha.

Gue pikir di jaman yang udah secanggih ini, perempuan punya pendidikan tinggi itu udah hal biasa aja. Tapi ternyata, gue berekspektasi cukup jauh. Hahaha. Ternyata, masih ada yang mikir ngapain sih perempuan itu sekolah sampe tinggi kalo ternyata ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga. Bokap gue pernah bilang, “sekolah tinggi jangan cuma ilmunya aja yang di ambil. Tapi networkingnya. Pola pikirnya yang juga harus lebih terbuka. Semakin tinggi sekolahnya, makin bermacam-macam problem yang ditemukan dan macam-macam cara solve-nya. Karena di kehidupan nyata problemnya juga macem-macem, kan?” Jadi sekolah itu bukan cuma dapet hard skill tapi juga soft skill nya.

Tapi bukan gue jadi underestimate perempuan-perempuan yang memilih untuk nggak sekolah tinggi dan memilih untuk menikah lalu jadi ibu rumah tangga. Jadi ibu rumah tangga juga berat loh ya. Secara gue menyaksikan gimana nyokap gue udah bangun dari jam 4 pagi buat ngurusin keluarga. Gue cuma agak risih kalo ada orang yang merasa pilihan untuk sekolah tinggi itu sangat tidak perempuan banget. Perempuan kan juga butuh ruang buat aktualisasi diri. Dan kalo ternyata ruang itu adalah lanjut sekolah lagi, ya ngga apa-apa dong. Pembahasan tentang perempuan dan pendidikan ini, udah pernah gue bahas di sini. Dan pendapat gue pun masih sama. Perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki untuk menuntuk ilmu setinggi-tinggi yang dia mau.

Selamat Hari Pendidikan Nasional dari Liris yang mau S2 tapi bingung mau ambil majoring apa. #kokcurhatbuk

Love,
Liris Kinasih

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....