Skip to main content

Expectation Kills Me

Malam itu pukul 23.00, setelah sekian lama gak seperti ini, gue terbangun dan gak bisa langsung tidur. Biasanya di situasi seperti itu, pikiran-pikiran yang menyebabkan kecemasan muncul. Ada beberapa hal yang biasa gue lakuin kayak baca buku, dengerin music instrument (mostly piano. Yiruma is still the best) atau nonton vlog orang-orang. Walaupun opsi terakhir lebih pengen dihindarin.

my comford music :)

Malam itu, gue tau bahwa kemungkinan gue akan cemas akan sangat besar. Pertama, this week is my PMS period. Doh. Kedua, bulan ini kerjaan kantor lagi Alhamdulillah panen. Ketiga, bulan ini harus men-skip jadwal konseling dan meditasi. Huks. Sedih. Keempat (banyak ugha sist, hm), si-mas-yang-udah-punya-pacar itu masih aja hadir secara random dalam hidup gue. Well, his presence still disturbs me.

Walaupun gue tau bahwa gue akan kemungkinan besar jadi cemas, gue memilih buat ngikutin pikiran gue itu mau kemana. Nekat sih. Kayak tau jalan di depan itu terjal dan bahaya banget tapi gue tetep milih jalan itu. Beda tipis emang oon sama nekat ya.. haha.



Dan ya kan gue kena batunya. Setelah sekian banyak pikiran yang berkecamuk, gue jadi cemas sendiri. Setiap gue cemas terhadap sesuatu, gue akan juga jadi cemas karena gue sadar gue lagi cemas. lagi-lagi doube anxieties. Mamam tuh, Ris! Bandel sih. Dan malam itu gue ngerasa sangat sangat kesepian. I need someone to talk with. Tapi ya menurut ngana aja tengah malem ada orang mau dengerin curhat penting-ga penting. Gue termasuk bukan orang yang muree mau cerita sama siapa aja. Hanya segelintir orang yang bisa gue percaya untuk jadi tempat gue nyampah. Bukan karena gue gak percayaan (atau mungkin juga iya) tapi lebih gue sebenernya gak enak banget kalo mau nyampah sama orang. Bahkan sama temen yang udah bertahun-tahun kenal gue. Kayak gue takut waktu mereka kepake sama ha yang gak penting banget.

Oke, balik lagi.

Malam itu gue lewatin dengan kondisi fisik dan mental yang lelah. Karena ulah gue sendiri. Iya, silakan tertawa yang keras para pembaca yang budiman. Paginya sebelum berangkat gue sempetin latian napas. Lumayan bikin tenang. Sampe di kantor, sebelum mulai kerja gue sempetin buat journaling. Journaling ini adalah salah satu PR yang harus gue lakuin setiap muncul pikiran-pikiran yang menyebabkan kecemasan. Idealnya, dilakukan pas banget gue mikir yang macem-macem. Tapi kenyataannya gak semudah kayak Syahrini liburan ke Eropa.  

walaupun terlihat mudah, tapi hidup ya kadang maju-mundur-cantik. ya gak mbak inces?

Dari proses journaling itu, gue sadar kalo gue sudah berekspekti cukup tinggi untuk hidup gue. Dan ketika kenyataan hidup yang gak sesuai sama ekspektasi gue, gue bukannya menerima dengan lapang dada tapi malah berusaha untuk denial. Denial kalo ekspektasi gue ketinggian atau denial kalo ternyata hidup emang gak melulu seneng-seneng.

Ini adalah beberapa hal yang secara garis besar gue lakukan ketika journaling. Menulis pikiran yang mengganggu (warna merah) dan menetralkannya dengan pikiran ‘dingin’ (warna biru).

1. Kenapa si-mas-yang-udah-punya-pacar terus aja muncul randomly? Padahal kan gue udah bilang kalo semuanya udah selesai. Harusnya kan dia gak hubungin gue lagi. Harusnya kan dia bisa ngejalanin hidup bahagia selamanya sama pacarnya itu (tolong jangan dibaca dengan nada nyinyir)
Setiap orang punya emosi dan perasaan yang nggak bisa kita atur. Gue gak bisa atur gimana perasaan si-mas-yang-udah-punya-pacar ke gue itu kaya gimana. Yang bisa gue lakuin adalah gimana gue merespon hal tersebut. Penting ga sih gue nanggepin itu semua? Bermanfaat gak sih sama hidup gue dengan gue nanggepin dia?

2. Kenapa sih orang-orang nggak ada yang bisa gue ajak cerita? Gue kan butuh mereka? Katanya mereka peduli sama gue. Kenapa saat gue butuh mereka, mereka nggak ada? Emang segitu mengganggunya gue ya?
It was over midnight. Wajar lah orang udah tidur. Itu adalah waktu-waktu dimana orang istirahat dan gak bisa dijadiin acuan juga saat itu kalo mereka gak peduli sama gue. Kalo gue cerita di waktu-waktu lain pun mereka biasanya respon kan. Ini hanya karena udah malem aja.

3.  Kenapa sih ada orang yang gue bisa pastiin gue punya waktu buat dia, bisa gue pikirin sampe kadang susah tidur, tapi dianya justru biasa aja? Kenapa sih dia gak bisa ngelakuin hal yang sama ke gue?
Hmm…monmaap, situ siapa ya Ris? Mungkin sama kayak poin 1, gue tidak memiliki otoritas sama apa yang harus orang lakukan ke gue. Kecuali kalo gue ini Jasa Keuangan, mungkin gue punya otoritas (#baique).  



4. Kenapa sih orang-orang bilang gue ini kuat, pintar dan baik? Padahal kan gue nggak segitu kuatnya, gak pintar-pintar banget dan nggak begitu baik. Pikiran kaya gini bikin gue jadi nggak happy sebenernya. Gue malah jadi ngerasa gak boleh lemah, jangan sampe keliatan oonnya dan gak boleh jadi orang jahat.
Sekali lagi, gue gak punya otoritas buat ngatur pikiran orang. Apa yang udah orang pikirin tentang gue, ya diterima dan disyukuri. Bahwa dengan segala kekurangan yang gue punya, gue memang punya sisi lebihnya juga. Tapi juga sampe jumawa karena dari sisi yang lebihnya itu ada sisi kurang yang gue punya .

Setelah gue nulis itu, gue ngerasa “itulah kenapa seharusnya journalingnya dilakukan pas pikiran mengganggu itu muncul". See, gue melewatkan waktu istirahat gue dengan membiarkan pikiran mengganggu itu berkeliaran kemana-mana. Gue membiarkan ekspektasi tinggi gue ngedrop terlalu dalem. #tepokjidat. Bisa dibayangin nggak sih, kalo gue gak ngelakuin journaling? Ya mungkin gue sedang ‘membunuh diri’ dengan ekspektasi gue sendiri.

Well, isi post kali ini entah gue ngerasa agak (bukan agak lagi kayanya) dibumbui kerecehan.
Sama seperti mood gue yang naik turun, selama nulis ini pun gue kadang ngetawain diri sendiri terus abis itu nangis ‘kok gue gini banget ya’. Hehe.

Terima kasih sudah membaca, semoga ada sedikit kebaikan yang kalian dapatkan dengan membuang waktu membaca tulisan ini sampai akhir.

Have a great day,


Liris 

Foto diambil dari sini, sini, sini, sini

Comments

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....