Skip to main content

First challenge: start to write

Nggak semua orang suka nulis. Right? So basically, for the first challenge when you have your writing session is start to write. Gue yang udah setahun berhenti untuk nulis, thought that may biggest challenge. Karena gue akan dihadapi (lagi) dengan pikiran dan juga perasaan. Mau gak mau.

Sesi pertama write to heal, gue ngerasa banget susah buat nulis. Well, selama ini gue (dan mungkin juga kalian) sering mengetik bukan menulis. Belum lagi penggunaan smartphone yang kebanyakan pakai fungsi touch screen. Physically, it felt hard. Seriously. I wonder when my last writing with my hand. Huhu. Tapi karena gue udah komitmen dalam diri untuk ikut sesi write to heal dengan sukses, jadi yaa..mulai beradaptasi sama keadaan. Hehe.

Like I said on my previous post, sesi write to heal itu hanya 20 menit. Selama 20 menit itu gue menulis apa aja yang (mungkin) selama ini mengganggu pikiran dan hati gue. Walaupun awalnya susah banget buat nulis, ternyata setelah dilakukan it felt like 20 minutes isn't enough. Hehehe. Setelah 20 menit, kita boleh simpan tulisan kita atau mau di buang. For me, I keep that. Karena gue cuma di beri waktu 20 menit, gue cuma "mengeluarkan" hal-hal yang bener-bener mengganggu. After that, rasanya legaaa banget. Dan jadi semangat buat ikut sesi berikutnya.

Fyi, write to heal session is held every week on Tuesday at Blumchen Coffee, SCBD Jakarta. If you wanna join us, you may send email to me: liriskinasih@yahoo.com

I'm happy to share my writing to get healed experience. Tunggu cerita-cerita selanjutnya.. :)

Have a nice day,

Liris

Comments

  1. write to heal itu nulisnya manual pakai tangan ya ris? ga boleh pake hp or tab gitu? haha
    anyway it's nice to know that you're back. welcome back ;)

    ReplyDelete
  2. Hahaha..lebih enak pake tangan. Lebih berasa emosinya.
    Thanks deiz. I'm happy I'm back.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Setapak

Aku ingin berjalan bersamamu menyusuri setapak kehidupan menikmati setiap perjalanannya Aku ingin menggenggam tanganmu agar kita bisa terus jalan beriringan agar saling tahu, bahwa semua akan baik-baik saja Tapi setapakku dan setapakmu harus terpisah Tak ada setapak yang bisa dilalui bersama Aku tak tahu seperti apa setapakku tanpamu Akankah tetap setapak penuh warna atau gelap sendu Setapakku dan setapakmu kian menjauh Tak ada lagi senyum hangat Tak ada lagi genggam menenangkan Tak ada lagi kamu di setapakmu Terima kasih sudah pernah menjadi penyejuk di setapak kecilku ❤ *17 Desember 2018 diantara sesak penumpang TransJakarta **Foto diambil dari sini

Melepasmu

"Is it okay to loving you like this?" Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul setiap aku bertemu denganmu. "Am I making you feel uncomfortable? " Adalah pertanyaan selanjutnya ketika kita mulai berbicara. You've been my best friend, my great person and my best inspiration ever had. Kesalahanku adalah membawa perasaan ini lebih jauh. I forgot that your smile and your words weren't only just for me. Aku lupa bahwa itulah caramu berteman. I forgot you just wanted to be a nice friend for everyone. Menyenangkan pernah ada sedikit dalam bagian kehidupanmu. Happy to knew you as a person, as a friend and as a coworkers. Terima kasih untuk selalu ada ketika aku butuh kamu Thank you for never leaving me alone. Maaf kalau aku tidak bicarakan ini secara langsung Today supposed to be our day to meet each other but for any reason you canceled it. Aku akan belajar bahwa melepasmu ada caraku menyayangimu lebih dalam. To loving you much more on my own way. ...

#runawayproject ? #writetoheal ?

  Untuk beberapa orang yang follow Instagram account gue atau temenan sama gue di Path, mungkin udah sering lihat posting -an gue tentang #runawayproject dan #writetoheal. Sebenernya keduanya adalah kegiatan menulis yang sedang gue lakuin. Keduanya berbeda tapi saling mendukung satu sama lain. Kegiatan menulis gue dimulai dengan #writetoheal terlebih dahulu, dilanjutkan dengan #runawayproject.Jadi, apa sih bedanya antara #wirtetoheal dan #runawayproject? Kalau sama-sama kegiatan menulis, kenapa dibuat berbeda? I will tell you.. #writetoheal. Seperti yang pernah gue tulis di blog ini tentang write to heal , ini adalah kegiatan menulis selama 20 menit tanpa jeda, tanpa perlu banyak berpikir, we just write anything that came out from our mind . Kegiatan menulis ini, akhirnya dipakai sebagai salah satu terapi. Yang pertama kali mengusung write to heal ini adalah salah seorang profesor bernama Pennebaker. Menurut Pennebaker, setiap orang itu pasti memiliki pengalaman emosi....